Waktu masih kecil, aku pernah bersumpah (dalam hati) nggak bakalan mau jadi pedagang. Maklum, saban hari, sepulang sekolah, aku pasti dijatahi jagain toko begitu selesai makan siang. Nggak ada yang namanya istirahat atau setidaknya bermalasan di depan tv sambil nonton kartun favoritku. Sekalipun anak paling bontot, aku toh nggak sama dengan anak-anak bontot lainnya yang dispesialkan. Semua dapat jatah kerja, tanpa kecuali.
Entah alasan apa, Ibuku selalu menunjuk aku untuk menjaga toko sembari beliau istirahat sejenak di kursi rotan butut yang bagian letak bokongnya nyaris anjlok itu. Dan entah kenapa Ibuku sangat memfavoritkan kursi itu sebagai tempat leha-lehanya. Memang, tugasku hanya menjaga laci uang sambil mengawasi karyawan yang melayani pembeli dan melakukan transaksi pembayaran. Kalo nggak salah nih, aku sudah bergelut di dunia ini mulai umur 9 tahun.
Biasanya aku 'piket' selama 2 atau 3 jam, tak jarang terkantuk-kantuk juga. Aku suka iri melihat teman-teman di lingkunganku setiap kali mereka melintas, entah kemana, melambai ke arahku lalu berhenti sejenak lalu ngacir lagi begitu melihat Ibuku. Padahal Ibuku tengah pulas di kursi rotan bututnya!
Ya, Ibuku memang tegas dan aku membenci hal itu. Hingga suatu hari, saat aku merasa dunia benar-benar nggak adil, Ibuku nggak adil dan semua yang di rumah nggak adil, aku diam-diam bersumpah bila kelak besar nanti nggak bakalan jadi pedagang. Nggak bakalan meneruskan usaha Ibuku. Aku akan mengikuti jejak Ayah, menjadi pegawai negeri.
Tapi ternyata doaku nggak terkabul. Justru aku merasa seperti dikutuk. Karena pada akhirnya, ketika aku seharusnya menekuni dunia perkuliahan, aku justru merengek untuk diijinkan membuka usaha. Kedua orangtuaku tentu saja kecewa. Tapi karena aku berjanji akan menjalankan keduanya (usaha dan kuliah) berbarengan, merekapun nggak bisa berkata apa-apa lagi selain memberiku kesempatan untuk membuktikannya.
Sekarang aku jadi Ibuku, seorang pedagang. Aku bahkan lebih tegas dan lebih cerewet dari Ibuku. Bila mengingat sumpahku, aku suka ketawa sendiri. Dulu aku benci dengan tugas yang diberikan Ibuku, aku benci duduk di belakang meja dan mengawasi karyawan. Tapi sekarang aku justru mensyukuri apa yang telah diterapkan Ibuku sejak dulu. Karena tanpa kusadari, aku sudah diajari cara berdagang, dan dikarenakan keinginanku untuk menjadi seperti teman-temanku yang bisa santai sepulang sekolah, membuat aku mengabaikan fakta bahwa aku sesungguhnya mencintai perdagangan.
Ibuku hebat .... Ibuku Guru yang terbaik.